Kalimashada.com
CIREBON, (20/10/2026) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan mendukung pemenuhan gizi anak sekolah kini menjadi sorotan. Sejumlah siswa dari tiga sekolah di Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, diduga mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu makanan yang dibagikan melalui program tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah siswa mengalami keluhan kesehatan berupa mual, muntah, hingga diare setelah mengonsumsi makanan MBG. Kondisi tersebut membuat beberapa siswa harus mendapatkan penanganan medis dan dilaporkan dibawa ke RS Putra Bahagia (Siloam), Kota Cirebon.
Salah seorang orang tua murid menuturkan bahwa berdasarkan cerita anaknya, makanan yang dikonsumsi saat itu berupa telur puyuh yang diduga memiliki rasa asam.
“Menurut cerita anak saya, telur puyuh yang dimakan rasanya asam. Setelah itu, sejumlah siswa mengalami keluhan seperti mual, muntah, dan diare,” ungkap orang tua murid tersebut.
Informasi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai kualitas makanan, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi menu MBG kepada para siswa. Meski demikian, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis dan penyelidikan oleh pihak berwenang.
KESELAMATAN SISWA HARUS MENJADI PRIORITAS
Dugaan kejadian ini perlu mendapat perhatian serius dari pihak sekolah, penyelenggara atau penyedia makanan MBG, instansi kesehatan, serta pihak terkait lainnya.
Pemeriksaan terhadap sampel makanan, termasuk telur puyuh yang dilaporkan terasa asam, penting dilakukan untuk memastikan apakah terdapat masalah keamanan pangan.
Pihak terkait juga perlu mendata seluruh siswa yang mengalami gejala, memastikan mereka mendapatkan penanganan medis yang memadai, serta menelusuri sumber makanan yang dikonsumsi.
Apabila dugaan tersebut terbukti berkaitan dengan makanan MBG, evaluasi menyeluruh terhadap proses penyediaan dan pengawasan pangan harus segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.
Program pemenuhan gizi bagi anak sekolah semestinya memberikan manfaat bagi kesehatan dan tumbuh kembang siswa. Karena itu, kualitas makanan dan standar keamanan pangan tidak boleh diabaikan.
Hingga informasi ini disusun, penyebab pasti kejadian tersebut, jumlah siswa yang terdampak, serta hasil pemeriksaan medis maupun sampel makanan belum dapat dipastikan. Konfirmasi dari pihak penyelenggara MBG, sekolah, Dinas Kesehatan, dan instansi terkait masih diperlukan untuk memperoleh keterangan yang berimbang.
(Eka)



